Sajak WS Rendra

Follow sejutablog on Twitter
Data Halaman Blog:
» Ditulis hari oleh Gunawan
» Kategori: Seni & Budaya
» Telah 4.143 kali dibaca
Topik Sejenis:
Berikan Komentar!
» Belum ada komentar
» Ayo berikan pendapat Kamu
» Komentar dalam RSS

foto ws rendra

Sering kali aku berkata, ketika seorang memuji milikku,

bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,

bahwa mobilku hanya titipan-Nya,

bahwa rumahku hanya titipan-Nya,

bahwa hartaku hanya titipan-Nya,

bahwa putraku hanya titipan-Nya,

tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,

mengapa Dia menitipkan padaku ?

Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya ini ?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah

kusebut itu sebagai ujian,

kusebut itu petaka,

kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,

kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,

aku ingin lebih banyak harta,

ingin lebih banyak mobil,

lebih banyak popularitas,

dan kutolak sakit,

kutolak kemiskinan,

seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:

aku rajin beribadah,

maka selayaknyalah derita menjauh dariku,

dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih.

Kuminta Dia membalas perlakuan baikku, dan menolak

keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku.

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,

Hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…

Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja.

Selamat jalan bung Rendra…

Jika kamu suka dengan tulisan ini silakan Berikan Pendapatmu!. Pantau terus perubahan dan lanjutan dari halaman blog ini dengan cara Berlangganan RSS.


Berikan Komentar

 

SejutaLagu
Permainan Game Online Gratis